Sabtu, 01 April 2023

CATATAN CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 7_SIDOARJO_Koneksi Antarmateri - Modul 3.1

 CATATAN CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 7_SIDOARJO



Koneksi Antarmateri - Modul 3.1 

KETRAMPILAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Perkenalkan nama saya Ria Arummanah. Saya adalah Calon Guru Penggerak angkatan 7 tahun 2023 dari SDN Punggul 1 Kec. Gedangan Sidoarjo Jawa Timur. Pada kesempatan ini saya membuat tugas koneksi antar materi tentang modul 3.1 yaitu pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin.

Dimana artikel koneksi antar materi ini berhubungan dengan materi-materi yang saya pelajari selama mengikuti pendidikan guru penggerak. Konsep awal yang akan saya uraikan berhubungan dengan pertanyaan dasar yaitu:

1.  Koneksi filosofi Ki Hajar Dewantara dengan filosofi konsep Triloka memiliki dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin (Modul 1.1)

Sebagai seorang guru, segala tingkah lakunya memang dianggap sebagai role model bagi masyarakat, oleh karena itu pembentukan nilai diri harus menjadi teladan bagi muridnya. Untuk memudahkan seorang guru dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman seorang guru harus memilki dan berpedoman pada asas pendidikan yang kita kenal sebagai patrap triloka. Konsep triloka terdiri atas tiga semboyan yaitu Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. semboyan tersebut artinya adalah "di depan memberi teladan", "di tengah membangun motivasi", dan "di belakang memberikan dukungan". Dengan pratap triloka tersebut maka seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu menjadi sosok yang bisa mengambil keputusan yang tepat serta berpihak pada murid.


2. Koneksi nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan? (Modul 1.2)

Nilai-nilai yang tertanam pada sorang guru seharusnya adalah nilai-nilai kebajikan. Karena nilai-nilai kebajikan yang ada dalam diri guru diibaratkan seperti gunung es yang hanya terlihat kecil dipermukaan air tetapi merupakan bagian yang besar di dalam alam bawah sadar kita. Diane Gossen (1998) seorang pakar pendidikan dan praktisi disiplin positif mengemukakan bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai kebajikan universal ini merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid kita. Selanjutnya Gossen berpendapat bahwa bila kita ingin menumbuhkan motivasi instrinsik dari dalam diri seseorang, maka tumbuhkan pemahaman terhadap nilai-nilai kebajikan universal. Nilai-nilai kebajikan universal bisa berupa antara lain Keadilan, Keselamatan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Rasa Syukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Berkomitmen, Percaya Diri, Kesabaran, Keamanan, dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut merupakan sesuatu yang penting dan berpengaruh pada pembentukan karakter sebagai pendidik dan sebagai pedoman dalam mengambil sebuah keputusan. Sebagai Calon Guru Penggerak, ada nilai-nilai yang harus dipegang dan diimplementasikan seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Dalam mengambil keputusan yang tepat diperlukan nilai-nilai atau prinsip, pendekatan, dan langkah-langkah yang benar sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan /keberpihakan pada anak didik kita. Untuk membuat keputusan berbasis etika, diperlukan kesamaan visi, budaya dan nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah institusi sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan akan lebih jelas.



3.   Koneksi materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (Modul 2.3)

Keterampilan paradigma berpikir Coaching merupakan keterampilan menggali kemampuan orang lain dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi coachee. Keterampilan coaching yang harus dimiliki diantaranya adalah mampu memberikan pertanyaan yang berbobot, kehadiran penuh (full presence), memiliki pembawaan yang positif, kemampuan mendengarkan dan memotivasi, bisa memandu percakapan, berkomitmen untuk terus belajar. Pendekatan coaching sistem among dapat diterapkan dengan menggunakan metode TIRTA yang merupakan kepanjangan dari T: Tujuan, I: Identifikasi, R: Rencana aksi, dan TA: Tanggung jawab. Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya dan menghilangkan permasalahan yang dihadapi yang sudah menyumbat pemikiranya, sehingga terasa plong, bebas Kembali dari masalahnya tersebut.


Kegiatan Coaching yang diberikan fasilitator membantu saya berlatih mengevaluasi pilihan yang saya buat. Apakah keputusan itu sudah berpihak pada murid, apakah sudah sesuai dengan kebajikan universal, apakah keputusan itu bermanfaat bagi banyak orang, apakah keputusan itu dibenarkan? harus dapat mengetahui dan memahami kebutuhan belajar dan keadaan sosial dan emosional siswa, keterampilan coaching membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan untuk memprediksi hasil dan pilihan yang berbeda untuk pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Coaching juga mempengaruhi proses belajar siswa, membantu saya dalam membuat keputusan yang tepat yang mempengaruhi lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman dan lingkungan yang nyaman. Sesi coaching membantu guru memaksimalkan potensi mereka dalam memecahkan masalah. Hal ini memungkinkan guru untuk menggunakan teknik coaching untuk mengidentifikasi masalah dan menghasilkan keputusan yang tepat ketika menentukan dilema etika ataupun bujukan moral pada murid.

4. Koneksi kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika? (Modul 2.2)

Dalam melaksanakan proses pendidikan, pendidik dalam hal ini guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar siswanya serta mengelola kapasitas sosial dan emosionalnya dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab membutuhkan keterampilan sosial-emosional seperti kepercayaan diri, kesadaran diri (self awarness), kesadaran sosial, dan keterampilan sosial. Oleh karena itu, sangat diharapkan untuk dapat menerapkan diskresi dalam proses pengambilan keputusan, terutama dengan mengenali berbagai pilihan dan kemungkinan hasil serta meminimalkan kesalahan dalam proses pengambilan keputusan, terutama masalah dilema etika dimana keduanya sama-sama memiliki nilai kebenaran.

5. Koneksi pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? (Modul 3.1)

Sebagai pemimpin pembelajaran, pendidik harus mampu melihat masalah yang dihadapinya, apakah itu dilema etika atau bujukan moral. Pendidik dengan nilai-nilai pendidik yang inovatif, kolaboratif, mandiri, dan reflektif dapat membimbing peserta didik dalam mengambil keputusan dan mengenali potensi dirinya untuk mengatasi tantangan. Melakukan dan bertindak untuk kepentingan murid, menjunjung tinggi prinsip/nilai kita sendiri dan melakukan apa yang kita ingin orang lain lakukan terhadap kita. Ada banyak cara untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab: Pertimbangan prinsip dan langkah-langkah untuk membuat dan menguji keputusan dalam kaitannya dengan masalah yang dihadapi. Dan jika masalah tersebut dilema etika atau benar VS benar maka, guru perlu melakukan pertimbangan terhadap 4 paradigma pengambilan keputusan dan 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan.

6. Koneksi pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. (Modul 1.4)

Untuk bisa membuat sebuah keputusan yang sempurna dan berdampak dalam terciptanya lingkungan budaya yang positif, kondusif, dan nyaman, hal pertama yg wajib kita lakukan merupakan mengenali terlebih dahulu masalah yg terjadi apakah masalah tadi termasuk dilema etika atau bujukan moral. Apabila masalah tadi adalah dilema etika atau bukan, sebelum membuat sebuah keputusan kita wajib bisa menganalisa pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip & 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, sehingga keputusan yg kita ambil bisa membangun lingkungan yang positif, kondusif, dan nyaman buat muridnya. Intinya pengambilan keputusan yang tepat terkait masalah dalam bujukan moral atau dilema etika hanya bisa dicapai bila dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan 5 tahap uji . Dapat dipastikan bahwa bila pengambilan keputusan dilakukan secara seksama melalui proses analisis perkara yg cermat dan akurat menggunakan 9 langkah tadi, maka keputusan tadi diyakini akan bisa mengakomodasi seluruh kepentingan kepada pihak-pihak yg terlibat , sehingga nantinya akan berdampak positif dalam terciptanya lingkungan yang positif, kondusif dan nyaman serta berpihak pada murid.

7. Dampak dan akibat yang dihadapi untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika (Modul 3.1)

Sebelum mempelajari modul ini, saya mengalami masalah atau kasus yang berkaitan dengan dilema etika. Keputusan yang saya buat saat itu sering kali didasarkan pada intuisi saya, nilai-nilai saya, dan pertimbangan saya terhadap orang lain. Jadi saat mempelajari modul 3.1, saya merasa bahwa pemikiran care based thinking adalah prinsip yang digunakan dalam pengambilan keputusan, terutama yang berkaitan dengan dilema etika. Dalam kasus keyakinan moral atau dilema moral, saya berada dalam situasi seperti itu, tetapi ketika itu terjadi, saya mencoba untuk berpikir dan menganalisis baik buruknya situasi yang saya hadapi dan mengambil keputusan. kolega, teman, atau anggota keluarga yang Anda anggap sebagai teladan atau teladan. Prosedur pengambilan keputusan saya tidak sama persis dengan konsep yang Anda pelajari dalam modul, tetapi ada kesamaan. Ini berarti menganalisis unsur kebenaran lawan salah dan uji panutan dan idola.

Sebagai seseorang pemimpin pembelajaran kita seringkali dihadapkan dalam situasi dimana kita diharuskan mengambil suatu keputusan, tetapi terkadang pada pengambilan keputusan terutama dalam situasi problem yang kita hadapi masih kesulitan contohnya lingkungan yg kurang mendukung, bertentangan menggunakan peraturan, pimpinan tidaak merespon lantaran merasa lebih berwenang, kurang bisa meyakinkan orang lain bahwa keputusan yg diambil telah sempurna, perbedaaan dalam cara pandang dan adanya dilema etika dan bujukan moral.

Sebagai seorang guru, saya merasakan dampak yang begitu terasa dan terlihat terkait materi pengambilan keputusan pada modul 3.1 ini. Tujuan dari belajar adalah memerdekakan siswa, agar ia mencapai kodratnya sesuai dengan potensi yang ia miliki. sebelumnya kita sering menemukan dilema namun kita belum bisa menyelesaikan permasalahan dengan mengambil sebuah keputusan dengan tepat. Dengan semua materi yang telah dipelajari dari modul 3.1 ini maka ketika kita mengambil keputusan harus memperhatikan beberapa hal penting terkait 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan maka keputusan yang kita ambil akan berdampak baik kepada murid karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah dapat memberikan keselamatan dan kebahagian pada murid, sehingga dengan keselamatan dan kebahagiaan.

Oleh karena itu dalam proses pengambilan keputusan harus berpihak pada murid. Pendidik yang mampu mengambil keputusan secara tepat akan memberikan dampak akhir yang baik dalam proses pembelajaran sehingga mampu menciptakan well being murid untuk masa depan yang lebih baik.

8. Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya.

Kesimpulan akhir yang saya dapatkan dalam pembelajaran materi modul 3.1 pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin dan keterkaitan dengan modul-modul sebelumnya adalah merupakan satu kesatuan untuk memerdekakan murid dalam belajar, Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat.

Pengambilan keputusan dalam pembelajaran harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).


    Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam sebuah keputusan yang diambil sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Untuk membuat keputusan yang baik, keterampilan coaching membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan untuk memprediksi hasil dan pilihan yang berbeda untuk pengambilan keputusan. Ini juga membantu siswa menemukan solusi untuk masalah mereka sendiri. Keterampilan cocaching dapat diterapkan pada teman sebaya dan masyarakat terkait dengan masalah yang dihadapi selama proses pembelajaran. Selanjutnya pengambilan keputusan membutuhkan kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness), dan keterampilan interpersonal (relationship skills), dan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dalam kesadaran penuh (mindfullness) dan sadar dengan pilihan dan hasil yang berbeda. Dalam mewujudkan peserta didik yang memiliki profil pelajar Pancasila demi terwujudnya merdeka belajar.

Dalam menjalankan peran sebagai pendidik, tentu seringkali kita menghadapi situasi dimana kita harus mengambil keputusan dimana terdapat nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama memiliki nilai kebenaran, namun saling bertentangan. Namun sesulit apapun keputusan yang akan diambil, sebagai guru paling tidak selalu berpatokan dengan 3 unsur yang berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dilema etika sendiri merupakan dua keputusan yang sama-sama benar sedangkan bujukan moral adalah dua keputusan dimasa salah satunya adalah keputusan yang salah. Jadi jelas bahwa dilema etika benar lawan benar sedangkan bujukan moral keputusan yang benar lawan salah.

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang

bisa dikategorikan seperti di bawah ini:

1. Individu lawan kelompok (individual vs community)

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Seorang guru sebagaim pemimpin pembelajaran juga dapat menganalisis 3 prinsip atau pendekatan dalam pengambilan keputusan yang memuat unsur dilema etika, serta menilai dirinya memiliki kecenderungan menggunakan prinsip yang mana pada saat pengambilan keputusan. Ketiga prinsip tersebut adalah:

a.     Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

b.    Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

c.     Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Suatu pengambilan keputusan, walaupun telah berlandaskan pada suatu prinsip atau nilai-nilai tertentu, tetap akan memiliki konsekuensi yang mengikutinya. Pada akhirnya kita perlu mengingat kembali hendaknya setiap keputusan yang kita ambil didasarkan pada rasa penuh tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal, serta berpihak pada murid. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, guru juga harus memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan.

Ada 9 tahapaan pengambilan dan pengujian keputusan

1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang salingbertentangan

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini

4. Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji panutan/idola)

5. Pengujian paradigma benar atau salah

6. Prinsip pengambilan keputusan

7. Investigasi tri lema

8. Buat keputusan

9. Meninjau kembali keputusan dan refleksikan

Hal yang menurut saya diluar dugaan adalah ketika saya mengambil suatu keputusan saya berfikir hanya perlu mengumpulkan fakta dan melihat benar-salah. Ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya mengambil sesuai pemikiran saya saja namun perlu melihat 4 paradigma, 3 prinsip dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Karena selam ini saya berargumen jika pengambilan keputusan cukup dengan mengambil keputusan yang memiliki resiko paling sedikit terhadap institusi dan diri sendiri.

Dan dampak yang saya rasakan setelah mempelajari modul 3.1 adalah saya menjadi lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, terutama sebagai pemimpin pembelajaran. Setelah melalui proses pengujian keputusan sembilan langkah ini, saya merasa lebih percaya diri karena saya tahu keputusan saya benar dan efektif. Sehingga dengan melakukan tahapan yang tepat akan meminimalisir dampak negatif terhadap pengambilan keputusan yang telah saya ambil karena telah melalui tahapan yang seharusnya. Dan setiap keputusan yang akan saya ambil kedepannya akan memihak pada murid. Sehingga akan berdampak bagi kemajuan pendidikan.Saya juga merasa mendapatkan wawasan yang berharga sebagai individu, terutama ketika melihat masalah yang saya hadapi.

Saya percaya bahwa pengetahuan tentang pengambilan keputusan ini sangat penting, baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah, untuk dapat membuat keputusan yang benar dan efektif serta menghindari pengambilan keputusan yang ceroboh. Sebelum saya mendapat pengetahuan tentang pengambilan keputusan, saya merasa bahwa banyak hal dan keputusan yang saya buat tidak didasarkan pada cara berpikir yang jelas dan terstruktur.kekarang saya mengerti bagaimana keputusan dibuat. Membuat keputusan serta dapat membedakan antara dilema etika dan bujukan moral dan menggunakan sembilan langkah pengambilan keputusan memberi saya kepercayaan diri dalam membuat keputusan yang tepat. Mempraktikkan keterampilan membuat keputusan ini dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh akan membutuhkan lebih banyak latihan dan pembelajaran.

Terima Kasih. Semoga Bermanfaat.

Salam Guru Hebat. Tergerak Bergerak Menggerakkan dan Berdampak.

Selasa, 21 Maret 2023

Program Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 7 kelas 120 Sidoarjo

Koneksi Antar Materi Modul 2.3

COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

A. COACHING
Modul 2.3 dalam Program Pendidikan Calon Guru Penggerak, berbicara tentang bagaimana coaching. Coaching merupakan pendekatan yang mampu memberdayakan dan membuka potensi untuk memaksimalkan kinerja seseorang. Hal ini sejalan dengan ungkapan Whitemore (2003), coaching adalah kunci pembuka seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya. Coahing bertujuan menuntun coachee untuk menemukan ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang diharapi atau mencapai tujuan yang dikehendaki. Dalam coaching terbagung kemitraan yang setara antara coach dan coachee.

Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999]. Coaching lebih mengarah pada kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya.
Proses coaching memberikan ruang bagi coach untuk menggali semua potensi yang ada pada diri coachee sehingga coachee dapat berkembang dari berpikir pada saat ini ke arah pemikiran masa depan.

Sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999)

Coaching merupakan suatu proses percakapan yang memberdayakan, maka dalam proses coaching seorang coach harus mampu mengajukan pertanyaan – pertanyaan berbobot yang berpeluang pada coachee untuk mengemukakan  jawaban-jawaban yang menantang dari dirinya sendiri karena pada dasarnya cochee sendirilah yang lebih tahu masalahnya dari pada coach. Sejalan dengan hal tersebut dalam proses coaching diperlukan ketrampilan bertanya dari coach dalam rangka menggali, dan menuntun coachee untuk menemukan solusi dari masalahnya, melaksanakan dan merasakan dampaknya sendiri.

Paradigma berpikir coaching tersebut antara lain;

1. Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan
2. Bersikap terbuka dan ingin tahu
3. Memiliki kesadaran diri yang kuat
4. Mampu melihat peluang baru dan masa depan.
Dari semboyan Tut Wuri Handayani mindset Ki Hajar Dewantara maka Coaching akan membangun hubungan yang baik dan menyenangkan antara guru dan murid, yaitu :

a.     Murid adalah Mitra Belajar

Guru dapat memberikan apresiasi kepada murid sebagai mitra belajar. Sehingga guru dan murid akan memiliki kesepahaman yang sama tentang belajar. Pada coaching, guru akan menjadi pendengar yang baik untuk mengenali kekuatan/potensi murid secara mendalam. Sehingga murid akan menemukan kekuatan yang ada pada dirinya melalui tuntunan dari guru.

b.     Kasih dan Persaudaraan

Murid sebagai manusia yang memiliki kebebasan yang juga butuh cinta kasih. Guru mengikuti, mendampingi dan menjadi pendorong kekuatan kodrat murid secara holistik berdasarkan cinta kasih dan persaudaraan tanpa pamrih, bukan keinginan menguasai dan memaksa.

c.     Emansipatif

Proses coaching membuka ruang emansipatif guru dan murid. Memberi murid peluang menemukan kekuatan kodratnya, potensi dirinya dan kekuatan yang dimilikinya.

d.     Ruang Perjumpaan Pribadi

Membangun rasa percaya dan kebebasan guru dan murid dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif menuntun untuk menguatkan kekuatan kodrat murid.

Proses coaching pun juga dapat dikaitkan dengan pembelajaran berdeferensiasi, seperti yang kita tahu bahwa pembelajaran berdeferensiasi merupakan pembelajaran yang berdasarkan pada kebutuhan murid baik dalam hal kesiapan belajar, profil belajar murid maupun minat murid. Coaching dapat dijadikan suatu alat  dimana dalam proses identifikasi, pendidik dapat  melakukan identifikasi kebutuhan  belajar murid sebagai bentuk asesmen awal  yang akan dijadikan sebagai dasar proses pelaksanaan pembelajaran sehingga akan dapat mengembangkan kekuatan yang ada didalam diri murid. Dengan proses tersebut akan terwujud pembelajar yang merdeka yang dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Pada proses pembelajaran social dan emosional, proses coaching juga memiliki keterkaitan. Proses pembelajaran social emosional merupakan suatu proses pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar bagi murid untuk menumbuhkan dan melatih lima Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE), yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran social emosional sangat mendukung bagi pelaksanaan coaching, sebab dalam pelaksanaan coaching diperlukan pemahaman tentang Kompetensi social emosional. Dengan pembelajaran social emosional, coach dan cochee dapat berinteraksi dengan sepenuhnya hadir dalam proses coaching, dapat mendengarkan dengan RASA, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga dapat menimbulkan empati.

Untuk dapat menjadi coach yang baik harus memiliki kompetensi

1)  Kehadiran Penuh/Presence
2) Mendengarkan Aktif
3)Mengajukan Pertanyaan Berbobot
4)Mendengarkan dengan RASA.
Akronim RASA

1. R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semAskua informasi yang disampaikan coachee.  Perhatikan kata kunci yang diucapkan.

2. A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee.  Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”.  Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain atau sibuk mencatat.

3. S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama.  Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee.  Saat merangkum bisa gunakan potongan-potongan informasi yang telah didapatkan dari percakapan sebelumnya.  Minta coachee untuk konfirmasi apakah rangkuman sudah sesuai.

4. A (Ask/Tanya).  Sama dengan apa yang sudah disampaikan sebelumnya terkait kiat mengajukan pertanyaan berbobot berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat mengajukan pertanyaan:

a. ajukan pertanyaan berdasarkan apa yang didengar dan hasil merangkum (summarizing)
b. ajukan pertanyaan yang membuat pemahaman coachee lebih dalam tentang situasinya
c. pertanyaan harus merupakan hasil mendengarkan yang mengandung penggalian atas kata kunci atau emosi yang sudah dikonfirmasi
dalam format pertanyaan terbuka: menggunakan apa, bagaimana, seberapa, kapan, siapa atau di mana
c. Hindari menggunakan pertanyaan tertutup: “mengapa” atau “apakah” atau “sudahkah”.

Adapun percakapan yang digunakan pada coaching menggunakan Alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi , dan Tanggungjawab). Adapun alur TIRTA sendiri merupakan dikembangkan dari satu model umum coaching yang dikenal sangat luas dan telah banyak diaplikasikan, yaitu GROW model. 
GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will.

1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

4) Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

Dengan proses coaching guru juga dapat mengembangkan kompetensi diri sebagai pemimpin pembelajaran. Supervisi akademik merupakan serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk memberikan dampak secara langsung pada guru dan kegiatan pembelajaran mereka di kelas. Supervisi akademik bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru yakni pemberdayaan dan pengembangan kompetensi diri dalam rangka peningkatan performa mengajar dan mencapai tujuan pembelajaran yang berpihak pada anak.Dan dalam proses pelaksanaannya supervise akademik menggunakan pendekatan coaching.

Namun juga ada beberapa kasus pada murid yang tidak dapat diselesaikan dengan coaching. Yang pada tahap berikutnya dapat diselesaikan dengan mentoring ataupun konseling. Sehingga ada perbedaan pada proses coaching, mentoring dan konseling.

A.1. Pada coaching, maka guru lebih mengarahkan murid sebagai coachee untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan memaksimalkan potensinya. Guru menganggap muridnya sebagai kemitraan yang setara. Sehingga guru sebagai coach hanya memberikan arahan. Dan coachee yang membuat keputusannya sendiri.

A.2. Mentoring, di sini guru akan berperan sebagai mentor yang memiliki pengalaman agar dapat memberikan tips dalam menyelesaikan masalah murid yang disebut mentee. Pada mentoring mengharuskan guru dapat membagikan pengalamannya untuk membantu murid/mentee mengembangkan diri.

A.3. Di tahap konseling, guru yang ahli sebagai konselor membantu konseli memecahkan masalah, akibat kejadian di masa lalunya, dan konselor harus bisa langsung memberikan solusi.

Penerapan Coaching dapat dilakukan dengan model TIRTA.
TIRTA adalah akronim dari Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dan Tanggung jawab. TIRTA juga berarti air dari segi bahasa. Air yang mengalir dari hulu ke hilir. Jika murid-murid kita ibaratkan air itu maka biarkanlah mereka merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Sebagai guru, kita memiliki tugas untuk menjaga air itu tetap mengalir dan tanpa sumbatan.

Karena guru adalah penuntun yang membantu murid sebagai coachee menyadari bahwa mereka mampu menyingkirkan sumbatan-sumbatan yang bisa jadi penghambat potensi dalam dirinya.

Selain dengan murid, tentu saja coaching dapat dilakukan dengan sesama rekan sejawat dalam menemukan solusi atau jawaban saat menemui kendala yang dihadapi. Sehingga setelah coaching akan mendapatkan kelegaan karena telah menemukan jawaban untuk masalah yang dihadapi. Dan potensi diri dapat dikembangkan sesuai dengan komitmen dan dapat dipertanggung jawabkan.

B. SUPERVISI AKADEMIK
Secara definisi, supervisi akademik merupakan serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk memberikan dampak secara langsung pada guru dan kegiatan pembelajaran mereka di kelas. Supervisi akademik perlu dimaknai secara positif sebagai kegiatan berkelanjutan yang meningkatkan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yakni pembelajaran yang berpihak pada anak. Karenanya kegiatan supervisi akademik hanya memiliki sebuah tujuan yakni pemberdayaan dan pengembangan kompetensi diri dalam rangka peningkatan performa mengajar dan mencapai tujuan pembelajaran (Glickman, 2007, Daresh, 2001).

Hal peningkatan performa pembelajaran tersebut juga tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 201 Tentang Standar Nasional Pendidikan, bagian Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan berikut:

Pasal 14 ayat (1)

Dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran, penilaian proses pembelajaran selain dilaksanakan oleh pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 yang dapat dilaksanakan oleh:

sesama pendidik;
kepala Satuan Pendidikan; dan/atau
Peserta Didik.
Penilaian proses pembelajaran oleh sesama pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan asesmen oleh sesama pendidik atas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan. Sedangkan penilaian proses pembelajaran oleh kepala Satuan Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan asesmen oleh kepala Satuan Pendidikan pada Satuan Pendidikan tempat pendidik yang bersangkutan atas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan.

Memang dalam pelaksanaannya, tidak bisa kita pungkiri bahwa seringkali supervisi akademik dilihat sebagai sebuah proses yang bersifat satu arah. Apalagi jika supervisi akademik ini hanya terjadi satu tahun sekali menjelang akhir tahun pelajaran. Supervisi menjadi sebuah tagihan atau kewajiban para pemimpin sekolah dalam tanggung jawabnya mengevaluasi para tenaga pendidik.  Saatnya sekarang kita mengembalikan semangat supervisi akademik mula-mula dengan melihat dan berpikir dengan menggunakan kacamata dan topi seorang coach: supervisi akademik sebagai proses berkelanjutan yang memberdayakan.

Kualitas pengajaran atau akademik guru diharapkan meningkat melalui supervisi akademik, namun hal ini tidak berarti supervisi akademik hanya berfokus pada peningkatan keterampilan dan pengetahuan semata. Kualitas guru yang diharapkan untuk berkembang juga termasuk didalamnya peningkatan motivasi atau komitmen diri. Kualitas pembelajaran meningkat seiring meningkatnya motivasi kerja para guru.

Dalam pelaksanaannya ada dua paradigma utama yang menjadi landasan kita menjalankan proses supervisi akademik yang memberdayakan, yaitu :
1. Paradigma pengembangan kompetensi yang berkelanjutan
2. Optimalisasi potensi setiap individu pendidik.
Setiap kepala  sekolah dan pemimpin pembelajaran seyogyanya berfokus pada peningkatan kompetensi pendidik dalam mendesain pembelajaran yang berpihak pada murid yang bertujuan pada pengembangan sekolah sebagai komunitas praktik pembelajaran. Seorang supervisor memahami makna dari tujuan pelaksanaan supervisi akademik di sekolah (Sergiovanni, dalam Depdiknas, 2007):

1. Pertumbuhan: setiap individu melihat supervisi sebagai bagian dari daur belajar bagi pengembangan performa sebagai seorang guru,
2. Perkembangan: supervisi mendorong individu dalam mengidentifikasi dan merencanakan area pengembangan diri,
Pengawasan: sarana dalam monitoring pencapaian tujuan pembelajaran.
3. Tujuan supervisi akademik ini terpadu dan integral, tidak mengesampingkan tujuan yang satu dari yang lainnya.

Dalam setiap interaksi keseharian di sekolah, seorang pemimpin pembelajaran dan sekolah perlu menghidupi paradigma berpikir yang memberdayakan bagi setiap warga sekolah dan melihat kekuatan-kekuatan yang ada dalam komunitasnya. Melalui supervisi akademik potensi setiap guru dapat dioptimalisasi sesuai dengan kebutuhan yang nantinya dapat membantu para guru dalam proses peningkatan kompetensi dengan menerapkan kegiatan pembelajaran baru yang dimodifikasi dari sebelumnya. Dan salah satu strategi yang dapat dilakukan dalam mencapai tujuan tersebut adalah melalui percakapan coaching dalam keseluruhan rangkaian supervisi akademik.

Beberapa prinsip-prinsip supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching meliputi:

1. Kemitraan: proses kolaboratif antara supervisor dan guru
2. Konstruktif: bertujuan mengembangkan kompetensi individu
Terencana
Reflektif
3. Objektif: data/informasi diambil berdasarkan sasaran yang sudah disepakati
Berkesinambungan
4. Komprehensif: mencakup tujuan dari proses supervisi akademik.

Pada umumnya pelaksanaan supervisi akademik didasarkan pada kebutuhan dan tujuan sekolah dan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan supervisi, dan tindak lanjut. 

1. Pada tahap perencanaan, supervisor merumuskan tujuan, melihat pada kebutuhan pengembangan guru, memilih pendekatan, teknik, dan model, menetapkan jadwal, dan mempersiapkan ragam instrumen.

2. Tahap pelaksanaan diisi dengan kegiatan berdasarkan teknik dan model yang dipersiapkan. Kegiatan bervariasi dari kegiatan individu dan/atau berkelompok. Salah satu bagian dalam tahapan pelaksanaan supervisi akademik adalah observasi pembelajaran di kelas atau yang biasanya kita sebut sebagai supervisi klinis. Istilah supervisi klinis ini diperkenalkan oleh Morris Cogan dari Harvard University. Dalam buku Supervision for a Better School, Lovell (1980) mendefinisikan supervisi klinis sebagai rangkaian kegiatan berpikir dan kegiatan praktik yang dirancang oleh guru dan supervisor dalam rangka meningkatkan performa pembelajaran guru di kelas dengan mengambil data dari peristiwa yang terjadi, menganalisis data yang didapat, merancang strategi untuk meningkatkan hasil belajar murid dengan terlebih dulu meningkatkan performa guru di kelas.

Sebuah kegiatan supervisi klinis bercirikan:

1. Interaksi yang bersifat kemitraan
2. Sasaran supervisi berpusat pada strategi pembelajaran atau aspek pengajaran yang hendak dikembangkan oleh guru dan  disepakati bersama antara guru dan supervisor
3. Siklus supervisi klinis: pra-observasi, observasi kelas, dan pasca-observasi
Instrumen observasi disesuaikan dengan kebutuhan. 
4. Objektivitas dalam data observasi, analisis dan umpan balik.
5. Analisis dan interpretasi data observasi dilakukan bersama-sama melalui percakapan guru dan supervisor.
6. Menghasilkan rencana perbaikan pengembangan diri
7. Merupakan kegiatan yang berkelanjutan.

 Siklus dalam supervisi klinis pada umumnya meliputi 3 tahap yaitu:

1  Pra-observasi

Pertemuan pra-observasi ini merupakan percakapan yang membangun hubungan antara guru dan supervisor sebagai mitra dalam pengembangan kompetensi diri

2. Observasi

Aktivitas kunjungan kelas yang dilakukan oleh supervisor.

3. Pasca-observasi
Percakapan supervisor dan guru terkait hasil data observasi, menganalisis data, umpan balik dan rencana pengembangan kompetensi. Proses percakapan bersifat reflektif dan bertujuan perbaikan ke depan.

B. 1. Tindak lanjut Supervisi
Kegiatan supervisi akademik tidaklah berhenti saat rangkaian supervisi klinis selesai. Dengan prinsip berkesinambungan dan memberdayakan, seorang supervisor meneruskan hasil dari tahapan pelaksanaan supervisi akademis dan klinis sebagai pijakan lanjutan bagi proses tindak lanjut yang meliputi refleksi, perencanaan pengembangan diri dan pengembangan proses pembelajaran. Kegiatan tindak lanjut dapat berupa kegiatan langsung atau tidak langsung seperti percakapan coaching, kegiatan kelompok kerja guru di sekolah, fasilitasi dan diskusi, serta kegiatan lainnya dimana para guru belajar dan memiliki ruang pengembangan diri lewat berbagai kegiatan. Semua kegiatan ini dapat dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan pengembangan diri untuk meningkatkan kompetensi.

Seorang supervisor dengan paradigma berpikir seorang coach akan senantiasa menjadi mitra pengembangan diri para guru dan rekan sejawatnya demi mencapai tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid. Percakapan-percakapan antara supervisor dan para guru senantiasa memberdayakan sehingga setiap guru dapat menemukan potensi dan meningkatkan kompetensi yang ada pada setiap individu. Supervisi akademik menjadi bagian dalam perjalanan seorang pendidik menuju tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid dan membawa setiap murid mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

B. 2. Kepala Sekolah sebagai seorang Coach

Dalam menjalankan peran sebagai kepala sekolah dan supervisor dilema yang dialami Pak Lukman sering kali terjadi. Seorang pemimpin dapat berperan sebagai menjadi seorang evaluator atau penilai dan coach.

Carl Glickman (1985) dari Universitas Georgia menemukan jawaban dari dilema ini. Glickman mengatakan bahwa hal ini mungkin terjadi jika:

Adanya rasa percaya dalam hubungan supervisor dan guru serta dalam proses supervisi akademik ini
Guru menyadari dan memahami peran yang sedang ditunjukkan oleh kepala sekolah
Peran kepala sekolah disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.
Ketika menjadi sedang dalam kebutuhan untuk evaluasi, hanya perilaku sebagai evaluator yang ditunjukkan. Ketika sedang melakukan percakapan coaching, maka perilaku seorang coach-lah yang ditampilkan. Begitupula dengan peran lainnya yang mungkin dibutuhkan seperti konsultan atau trainer. Terlepas dari proses supervisi akademik, kepala sekolah perlu menginformasikan pada coachee mengenai peran yang sedang dilakukan.

Supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching memberikan sebuah dimensi  pertumbuhan dan pengembangan diri yang seringkali hilang dari sebuah rangkaian supervisi (Dolcemascolo, Miori- Merola, dan Ellison 2014 dalam Costa, A. 2016). Percakapan-percakapan coaching membantu para guru berpikir lebih dalam (metakognisi) dalam menggali potensi yang ada dalam diri dan komunitas sekolahnya sekaligus menghadirkan motivasi internal sebagai individu pembelajar yang berkelanjutan yang akan diwujudnyatakan dalam buah pikir dan aksi nyata demi tercapainya pembelajaran yang berpihak pada murid.

 

Terima Kasih

Semoga bermanfaat. Salam Guru Hebat.



Link Canva :

https://www.canva.com/design/DAFc_-XPPug/0U3WDWTrvXnrfMi4wgDLzg/edit?utm_content=DAFc_-XPPug&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

Observasi Silang Gugus 02 Kecamatan Gedangan

Supervisi silang yang diadakan di gugus 02 Kecamatan Gedangan kabupaten Sidoarjo merupakan program dari Bapak Sudarmaji, M.Si selaku pengawas korwil Gedangan dengan tujuan meningkatkan kualitas pedagogik seorang pendidik sesuai dengan kompetensi kekuatan abad 21, baik sekolah negeri atau swasta berkolaborasi untuk mensukseskan program tersebut.
Menyampaikan hasil observasi dan refleksi kepada kepala sekolah
pose bersama dengan para observer dari SD Negeri Gedangan dan SD Negeri Sruni 2, serta para pendidik dari SD Hangtuah 11 Gedangan Sidoarjo plus Kepala sekolah 

Selasa, 06 September 2022

Augmented Reality


AUGMANTED REALITY dalam pembelajaran 

Augmented Reality atau AR adalah teknologi yang memperoleh penggabungan secara real-time terhadap digital konten yang dibuat oleh komputer dengan dunia nyata. Augmented Reality memperbolehkan pengguna melihat objek maya 2D atau 3D yang diproyeksikan terhadap dunia nyata.

Contoh Augmented reality ada di Rumah Belajar

Daur hidup adalah tahap perkembangan hewan sejak menetas atau lahir sampai dewasa dimana daur hidup setiap hewan berbeda-beda.

Minggu, 28 Agustus 2022

DESAKU

 KARNAVAL DESAKU



Desaku

Punggul adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Punggul. Desa · Negara · Indonesia.
Desa Punggul Kecamatan Gedangan Kabupaten Sidoarjo merupakan suatu sentra industri yang memproduksi berbagai jenis perlengkapan sekolah, lebih khusus pada topi. Lokasi berdirinya industri kampung topi yang ada di Desa Punggul ini bersifat mengelompok (aglomerasi). Aglomerasi industri topi ini menimbulkan berbagai dampak, salah satunya adalah persaingan harga tanpa memperhatikan kualitas barang hasil produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi teraglomerasinya industri kampung topi, aksesibilitas dari industri kampung topi dan dampak yang ditimbulkan dari teraglomerasinya industri kampung topi. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh jumlah populasi yaitu 50 pengusaha. Sumber data diperoleh dari data primer dan sekunder menggunakan wawancara dengan kuisioner dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis diskriptif kuantitatif dengan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menyebabkan teraglomerasinya industri kampung topi adalah bahan baku sebesar 9% yang meliputi asal bahan baku, kemudahan mendapatkan bahan baku, ketercukupan bahan baku, jumlah bahan baku serta biaya bahan baku. Tenaga kerja memiliki persentase 14% yang terdiri dari status tenaga kerja, jumlah tenaga kerja, cara mendapatkan tenaga kerja dan upah tenaga kerja. Pemasaran dengan jumlah persentase 14% terdiri dari jangkauan pemasaran cara pemasaran industri jumlah barang jadi yang dihasilkan serta omset penjualan. Permodalan mendapatkan 18% dengan rincian besar modal, ketercukupan modal dan cara memperoleh modal. Aksesibilitas mencapai 18% yang meliputi aksesibilitas lokasi bahan baku, aksesibilitas tenaga kerja dan lokasi pemasaran. Dampak yang ditimbulkan mencapai 27% yang terdiri dari dampak positif dan dampak negatif.
Luas Desa, Jumlah Penduduk Dan Kepadatan Penduduk Per Km² Desa Punggul Tahun 2017
1. Luas Wilayah (Km²) 1,91 Km² 
2. Jumlah Penduduk (Jiwa) 7054 
3. Kepadatan Penduduk 3.693




GOOGLE MASTER TRAINER

 GMT TINGKAT 1 BATCH 6 GRUP 10


TWIBBONE GMT LEVEL 1 BATCH 6
DOKUMENTASI PENGIMBASAN GMT L1 B6 PSJ 2










SERTIFIKAT GMT LEVEL 1





SD NEGERI PUNGGUL 1

KEGIATAN PAWAI MEMPERINGATI HUT RI KE-77
SD NEGERI PUNGGUL 1












































 

Inovasi SEDANPUSAT : "VINA APIN" (Video Pembelajaran Menyenangkan Anak Pintar)

INOVASI PROGRAM SEKOLAH SDN PUNGGUL 1 "VINA APIN" Video Pembelajaran Menyenangkan Anak Pintar 1. Latar Belakang Perkembangan tekno...